Welcome to My Blog

Orang bijak berkata, "Banyak baca, banyak ilmu yang didapat."
Semoga bermanfaat... :)

Saturday, April 26, 2014

Momen Awal di Toraja

Tiga jam terbang di udara, bukan burung bukan juga serangga bersayap, tapi pesawat hercules yang mengangkut peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 dari Bandung menuju Makassar. Pukul 13.00 WITA 7 Maret 2013 kami tiba di Bandara Internasional Hassanuddin, Makassar. Itu lah saat pertama kalinya kaki saya menginjak tanah Pulau Sulawesi (*sebenernya bukan tanah juga sih, landasan pesawat terbang kan berwujud aspal). Setelah sedikit mengambil beberapa foto momen di sana, kami langsung menuju halaman depan bandara dan bertemu dengan personil dari daerah (yang kemudian disebut sebagai Tim Daerah) serta Letkol Buang Adri Aprianus  selaku Komandan Kodim (Dandim) Tana Toraja sekaligus Komandan Sub-Korwil (Dansub) VII/Tana Toraja. Setelah istirahat sejenak untuk makan siang dan sholat dhuhur, kami mendapat pengarahan singkat dari Dansub dan tepat pukul 14.00 WITA kami melanjutkan perjalanan menuju Tana Toraja, tempat kami bertugas. Pukul 18.00 kami tiba di Pare-Pare untuk istirahat makan sore (bukan makan malam ya) dan sholat maghrib untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tana Toraja.
Suasana di Dalam Pesawat Hercules (short body) Selama
Perjalanan Menuju Pulau Sulawesi
Setelah 3 jam perjalanan udara dan dilanjutkan 8 jam perjalanan darat yang cukup membuat badan berasa remuk campur meriang (gegara terus terpapar angin yang cukup kencang dan dingin selama duduk di Truk), akhirnya saya beserta rombongan tim ekspedisi sampai di Posko Taktis (Poskotis) SK VII/Tator yang berada di lapangan umum Mapongka, Lembang (atau biasa kita kenal dengan "desa") Ge'tengan, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja pukul 22.00 WITA. Di sana sudah berdiri 6 tenda barak yang akan menjadi kamar kami selama bertugas di sana. Setelah menurunkan muatan kami dari truk dan bis yang kami kendarai, kami langsung masuk ke dalam tenda barak masing-masing. Saya masuk ke dalam tenda 2 yang merupakan "tenda peneliti", tempat Tim Flora-Fauna, Tim Geologi dan Potensi Bencana, dan Tim Kehutanan. Tenda yang lain adalah tenda 1 (tenda jelajah) yang berisi personel Tim Penjelajah, tenda 3 (tenda sosial) yang berisi Tim Sosial-Budaya dan Tim Komunikasi Sosial, tenda 4 yang digunakan untuk tempat sholat/mushola, tenda 5 (tenda putri) dihuni oleh semua peserta putri yang ikut, dan tenda 6 (kosong) yang kemudian dibongkar karena memang tidak terpakai, serta 1 bangunan semi permanen berbentuk mennyerupai tongkonan (rumah adat suku Toraja) yang digunakan sebagai kantor poskotis (kotis).
Pagi pertama di Tana Toraja, barulah saya sadari kalau poskotis kami memiliki panorama yang sangat menawan. Sebuah lapangan luas yang berada di atas bukit, di kelilingi oleh lembah dengan daerah hunian masyarakat Lembang Ge'tengan, serta GANBASIL (Lembang Gandang Batu dan Lembang Silanan) di sisi barat dan utara dan di seberangnya terdapat bukit-bukit berbatu cadas yang tertutup hijaunya daun pepohonan. Di sebelah timur dan selatan dikelilingi jajaran bukit yang berbeda serta terdapat sebuah pabrik pengepul kopi terbesar di Toraja yang hasilnya biasa di ekspor dan dipasokkan ke waralaba kafe St*rbuck. *sensored :P
Di hari yang sama, kami melaksanakan korvey serta gladi kotor untuk upacara pembukaan ekspedisi di SK VII/Tator. Setelahnya kami mendapat paparan penjelasan lanjutan yang disampaikan oleh Dansub di kotis tentang keadaan atau gambaran umum di lapangan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan persiapan-persiapan yang lain.
Tarian Ma'gellu' Sebagai Sambutan Masyarakat Toraja Kepada
Tim Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013
9 Maret 2013 pukul 9.00 WITA, Upacara Pembukaan Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi Sub-Korwil VII/Tana Toraja dilaksanakan. Dipimpin langsung oleh Bupati Tana Toraja, upacara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh peserta ekspedisi (baik tim pusat dan tim daerah), muspida, dan elemen masyarakat yang lain seperti siswa SD, SMP, SMA/K, dan mahasiswa berjalan dengan lancar dan meriah. Acara ditutup dengan pertunjukan tarian adat Toraja bernama Ma'gellu' yang biasa dipertunjukkan sebagai tari sambutan bagi tamu-tamu agung yang datang di bumi Toraja (wah, kami dianggap sebagai tamu agung, jadi sungkan nih, he he he) atau suasana gembira yang lain seperti pesta pernikahan, syukuran panen dan sebagainya. Sambutan yang meriah serta keramahan masyarakat Toraja membuat suasana semakin menyenangkan dan seakan meyakinkan kami jika kami pasti akan betah tinggal di sana selama kegiatan ekspedisi ini berjalan.



-akan bersambung pada cerita selanjutnya-

Wednesday, April 16, 2014

Awal Cerita

"Bagai sayur kurang garam, kurang enak, kurang sedap" sebuah cuplikan lirik lagu dangdut yang cukup familiar di telinga kita dirasa cukup untuk menggambarkan keadaan dimana ketika kita mengadakan kegiatan yang bersifat formal tapi tanpa didahului oleh sebuah prosesi pembukaan. Tidak ingin hal ini terjadi, maka panitia penyelenggara Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 pun juga tak lupa menggelar Upacara Pembukaan Pra-Ekspedisi pada tanggal 21 Februari 2013 di lapangan upacara "tempat rahasia" (katanya sih musti gitu nyebutnya), Bandung. Bahkan demi upacara tersebut bisa berjalan dengan lancar, tepat sehari sebelumnya semua peserta diwajibkan melaksanakan gladi kotor dan dilanjut gladi bersih pada tanggal 21 pagi harinya, tepat sebelum upacara yang resmi berjalan.
Kasad bersama Tim Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi
Pukul 09.00 WIB hari Kamis tanggal 21 Februari 2013, Upacara Pembukaan Pra-Ekspedisi dilaksanakan. Dipimpin langsung oleh Danjen Kopassus dan diliput oleh berbagai macam media masa, upacara yang berjalan selama +/- 1 jam ini berlangsung dengan khidmat. Dengan diresmikannya kegiatan pembekalan/pra-ekspedisi ini, maka sejak saat itu pula serangkaian agenda pembekalan wajib dilaksanakan oleh semua elemen yang berkecimpung dalam Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 baik dari sisi militer, polri, dan sipil. Di malam harinya, saya sempat mendapat "kejutan" dengan dikerjai oleh orang-orang yang ada di barak (mengingat hari itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun saya). Sebenarnya hal ini sudah bisa saya duga, untung saja saya tidak diceburkan di danau ataupun disiram dengan air. Widiiih, nggak kebayang tuh, bagaimana dinginnya kalau sampai diceburin atau disiram.
Rutinitas awal dimulai dari senam pagi dan lanjut lari-lari dari lapangan menuju pintu angin kembali lagi ke lapangan, bersih-bersih lingkungan atau yang biasa disebut "korvey" (*gak tau tuh gimana ejaan yang benernya, he he he) di areal "tempat rahasia". Rundown kegiatan berikutnya adalah yang paling disukai oleh semua peserta, yaitu makan pagi. Meskipun harus antri sepanjang rangkaian kereta (bahkan mungkin lebih panjang antrian ini), hal ini tidak menyurutkan animo pesrta untuk tetap antri (ha ha, ya jelas lah, orang laper koq :P). Setelah makan dan bersih diri, semua peserta diharuskan mengikuti materi pembekalan sesuai jadwalnya baik di kelas besar (aula) untuk menerima paparan/materi umum atau pun ke kelas kecil untuk menerima materi khusus mengenai bidang penelitian masing-masing (untuk tim peneliti).
Agenda istirahat-sholat-makan siang juga tidak kalah seru. Pada waktu ini, tak jarang dari peserta langsung menyerbu kantin yang berada di sisi Danau/"tempat rahasia" sambil memesan mie instan dan minuman panas atau bahkan hanya sekedar duduk santai meskipun makan siang sudah disediakan. Banyak alasan bagi mereka untuk berbondong-bondong ke kantin, di antaranya karena: ada yang sekedar pengen ngobrol santai dan saling mengakrabkan diri dengan kenalan-kenalan baru; ada yang tidak suka menu makanannya (menu makan siang adalah T2, red); ada lagi alasan karena di kantin lebih hangat; disuhu yang dingin butuh asupan kalori lebih banyak selain asupan kalori dari T2, dan lain sebagainya. Semua alasan tersebut masuk akal juga sih, mengingat suhu di sana memang super dingin. Bahkan saat saya di sana selama 17 hari, saya hanya bisa berkesempatan merasakan hangatnya sinar matahari sebanyak dua kali masing-masing selama +/- 1,5 jam saja, selebihnya hanya ada kabut dan hujan. Waw :D
Setelah ishoma, agenda dilanjutkan dengan materi lagi sampai sore sambil berdingin-dingin ria di dalam kelas. Selesai materi, tiba waktunya istirahat-sholat-makan malam. Suasana makan malam di aula biasanya tak semeriah dan seriuh makan pagi, karena waktu yang lebih longgar dan santai maka antrian biasanya juga tidak terlalu panjang dan makanan biasanya dihabiskan di dalam barak penginapan (biar lebih hangat ceritanya). Meski begitu, bagi beberapa orang peserta, dinginnya malam tempat itu tak menghalangi mereka untuk berkumpul di kantin. Ditemani segelas minuman hangat ataupun minuman panas, sambil ngobrol-ngobrol santai tentang semua hal yang bisa diceritakan, seperti kegiatan yang sudah dilaksanakan siang tadi, kegiatan yang akan dilaksanakan di lokasi ekspedisi, kegiatan di kampus masing-masing, dan lain-lain, apapun itu pokoknya bisa dijadikan bahan obrolan.
Di pertengan hari pembekalan, peserta dipersilahkan "liburan" atau istilahnya "pesiar" turun ke kota untuk berbelanja keperluan tambahan yang dibutuhkan saat pembekalan dan ekspedisi berjalan. Hal ini pun tak disia-siakan oleh peserta, secara bergantian peserta ijin pesiar secara rombongan dengan menggunakan truk yang telah disediakan. Tidak sedikit juga yang tidak turun tapi cuma nitip untuk dibelikan.
reptil yang ditemukan saat simulasi praktikum lapangan
Di hari-hari akhir pra-ekspedisi, saatnya simulasi-simulasi praktikum lapangan dijalankan. Tim Peneliti Flora-Fauna "kebagian" di areal hutan utara aula. Kami melaksanakan simulasi praktikum penelitian herpetofauna, herbarium, dan penghitungan stok karbon. Sedangkan tim peneliti yang lain... mmm... saya tidak tahu... he he... yang jelas, mereka juga melaksanakan simulasi praktikum lapangan sesuai bidang penelitian masing-masing. Eh iya, ada yang terlewat. Sebelumnya, sempat terjadi bongkar-pasang personil (peserta sipil) di masing-masing sub-korwil, dan personil fix untuk SK VII/Tator adalah sebagai berikut: Happy, Umi, dan Erlin (Tim Peneliti Flora-Fauna); Uda (Tim Peneliti Kehutanan); Ryan, Okta, dan Bang Didik (Tim Peneliti Geologi dan Potensi Bencana); Rury, Otong, Dede, Arum, dan Yayuk (Tim Peneliti Sosial-Budaya); serta Arya, Vian, Lay, Vira, Munief, dan Meta (Tim Komunikasi Sosial). Mereka inilah tim pusat yang siap diterjunkan di lapangan penugasan.
Jika ada  upacara pembukaan, tentu ada juga upacara penutupan. Tepat pukul 9 pagi tanggal 5 Maret 2013, Upacara Penutupan Pra-Ekspedisi dilaksanakan di tempat yang sama. Setelah upacara selesai, acara selanjutnya adalah sesi foto bersama yang kemudian dilanjutkan dengan pemberangkatan ke Pusdikpassus di Batujajar lagi untuk persiapan keberangkatan menuju sub-korwil masing-masing.
Kebetulan SK VII/Tator mendapat "jatah" keberangkatan kloter ketiga pada tanggal 7 Maret 2013, sehingga kami mendapat waktu lebih untuk berpesiar di Bandung (lumayan :D). Waktu luang yang ada dimanfaatkan oleh peserta untuk berbagai macam kegiatan, ada yang sekedar di Pusdikpassus saja dan sekali-kali jalan-jalan ke luar, ada yang jalan-jalan keliling Bandung, ada yang pulang ke rumah untuk berpamitan dengan keluarga, ada juga yang plesiran ke luar kota, dan sebagainya.
Tanggal 7 Maret 2013, pukul 4 pagi, kami sudah berkumpul dan bersiap menuju bandara untuk kemudian lanjut menuju Sulawesi menggunakan pesawat hercules. Namun ketika kami sampai di bandara, pesawat yang akan mengalami keterlambatan. Alhasil, kami pun harus menunggu sedikit lebih lama untuk keberangkatan, namun itu tidak menyurutkan semangat kami untuk menuju lapangan tempat kami diterjunkan, yaitu pulau yang bernama Sulawesi. Pukul 9 pagi kami bergegas naik ke dalam pesawat hercules dengan sebelumnya melaksanakan seremonial pemberangkatan dan mendapat sedikit pengarahan oleh pilot yang menerbangkan pesawat kami. Akhirnya pesawat lepas landas, kami yang tergabung dalam Tim Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi Sub-Korwil VII/Tana Toraja beserta SK VIII/Gowa dan SK IX/Kolaka pun berangkat. Dari sini, petualangan kami di bumi Tana Toraja, Sulawesi Selatan akan dimulai! :D

.........To Be Continued


Sunday, December 29, 2013

Pengantar Sebuah Perjalanan



Delegasi Universitas Airlangga (minus Nunug)
Dimulai tanggal 16 Februari 2013, dengan meninggalkan kegiatan DIKLATSAR XXXV MPA WANALA UNAIR kami berenam, yaitu saya sendiri, Azhar (Horse), Saras (Cebong), April, Anzir (Anjrit), dan Baktiar berangkat menuju Bandung menggunakan kereta api Mutiara Selatan dengan titik start Stasiun Gubeng Baru, Surabaya. Setelah perjalanan yang memakan waktu selama semalam, akhirnya kami sampai di Bandung pukul 5 pagi tanggal 17 Februari 2013. Keluar dari stasiun, kami langsung mencari angkutan umum yang menuju PUSDIKPASSUS di Batujajar. Sekedar info, Pusdikpassus adalah akronim dari Pusat Pendidikan Pasukan Kusus milik Komando Pasukan Kusus (KOPASSUS) TNI AD. Maksud kedatangan kami ke Pusdikpassus kali ini bukan untuk berlatih menjadi seorang tentara dengan kemampuan yang sangar, tapi tidak lain dan tidak bukan hanya karena kami akan melakukan "tes wawancara" dilanjut "tes fisik" untuk prasyarat mengikuti kegitan berjudul "EKSPEDISI NKRI KORIDOR SULAWESI 2013" yang diadakan oleh KOPASSUS TNI AD bekerjasama (katanya) dengan KEMENKOKESRA sebagai delegasi dari Universitas Airlangga. Kami tidak sendiri, masih ada 5 mahasiwa lain yang berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unair lain yang ikut, yaitu 3 orang dari UKM KSR PMI dan 2 orang lain dari UKM Pramuka yang sudah berangkat terlebih dahulu.
Sesampainya di Pusdikpassus, kami langsung menuju tempat wawancara. Di sana sudah ada peserta lain yang sudah datang terlebih dahulu (termasuk 5 orang lain dari Unair) untuk mengantri presensi sehingga kami berenam pun juga harus antri lebih panjang lagi.
Setelah presensi, kami masuk ke dalam ruangan untuk mendapat pengarahan terlebih dulu sebelum melaksanakan wawancara. Saat itulah banyak peserta wawancara yang cukup kecewa, pasalnya bagi mereka yang awalnya mendaftar sebagai anggota Tim Penjelajah semua harus berpindah menjadi Tim Peneliti ataupun Tim Komunikasi Sosial karena adanya kebijakan baru dari panitia dan tim ahli. "Meski kecewa tapi tidak masalah lah", kata salah satu teman saya yang mendaftar sebagai Tim Penjelajah (awalnya). Lanjut disesi wawancara, masing-masing peserta dipanggil menuju meja wawancara masing-masing bidang, yaitu: Tim Komunikasi Sosial, Tim Peneliti Flora-Fauna, Tim Peneliti Kehutanan, Tim Peneliti Geologi dan Mitigasi Bencana, dan Tim Peneliti Sosial-Budaya. Peserta yang telah melaksanakan wawancara langsung lanjut menuju lokasi tes fisik. Setelah melaksanakan rangkaian tes, seluruh peserta dipersilahkan menuju ruang makan untuk menyantap sajian sarapan/makan pagi menjelang siang (karena saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, ha ha ha).
Rangkaian tes wawancara dan tes fisik sudah, perut terisi penuh juga sudah, maka selanjutnya peserta disuruh untuk segera berkemas dan bersiap untuk langsung diberangkatkan menuju tempat pembekalan pra-ekspedisi di "tempat rahasia" *begitu menyebutnya* (untuk peserta laki-laki) dan yang perempuan dipersilahkan menuju barak wanita di Pusdikpassus terlebih dahulu untuk menyusul diberangkatkan kemudian pada tanggal 19 Februari. Sekedar info lagi nih, nggak semua orang bisa keluar-masuk seenaknya loh ke "tempat rahasia" ini, karena tempat ini adalah areal terlarang bagi publik yang tidak berkepentingan dan tidak mengantongi surat ijin. Kalau tidak percaya, coba saja ke sana tanpa ijin, pasti nanti bisa nyasar sendiri atau kalau tidak, bakal kena dor peluru tajam! (wiii, ngeriii... o.O").
Setelah perjalanan selama +/- 1,5 jam dari Batujajar, kami semua disambut hujan setibanya di "tempat rahasia". Kami berkumpul di aula untuk mendapat pengarahan lagi dan pembagian barak penginapan sesuai dengan sub-korwil yang didapat. Saya mendapat pembagian di Sub-Korwil VII/Tana Toraja bersama mahasiswa lain yang hari itu sudah datang bersama kami, yakni: Alvian (Vian) dari Unjani (Bandung), Zancen (Jansen/Lay) dari Unpad (Padang), Arya dari Unboro (Jakarta), dan Hendra (Uda) dari Unmed (Medan). Sedangkan teman saya yang lain yaitu Horse di barak Sub-Korwil I/Sangihe (biasa disebut Sangir) dan Baktiar di barak Sub-Korwil VI/Mamuju. Keesokan harinya datang lagi rombongan baru yang juga masuk dalam Sub-Korwil Tator yakni Rury dari UI (Depok) dan Rizal (Otong) dari UMP (Purwokerto). Daaan... pada tanggal 19nya, datanglah semua peserta (baik peserta laki-laki yang baru datang hari itu beserta peserta perempuan yang sebelumnya masih tinggal di barak putri Pusdikpassus). Lengkaplah semua peserta yang sudah hadir di "tempat rahasia" (kecuali beberapa peserta yang dari UGM dikarenakan ada suatu hal) dengan formasi mahasiswa dan sipil (awal) SK VII/Tator: Happy, Umi <Tim Peneliti Flora-Fauna>, Rury, Otong , Arum, Munif, Tiara<Tim Peneliti Sosial-Budaya>, Arya, Uda, Lay, Yayuk, Dian, Meta, Vira <Tim Komunikasi Sosial>.
Foto bersama setelah upacara pembukaan pra-ekspedisi
Bertepatan dengan tanggal lahir saya, tanggal 21 Februari, Upacara Pembukaan Pra-Ekspedisi pun dilaksanakan. Dari sini lah awal cerita akan dimulai... :D

---To Be Continued---

Thursday, December 26, 2013

Lomba Artikel Pengamatan Burung Cangar 2013



        Bird watching, suatu kegiatan alam bebas paling murah sekaligus bisa paling mahal; paling mudah sekalligus paling susah; paling menyenangkan tapi tidak bisa jadi paling membosankan; paling mendidik dan berbobot keilmuan tapi terkadang juga terdapat unsur pembodohan; dan itu adalah kegiatan yang paling saya sukai tentunya... Yah, setidaknya itu menurut saya...  :D
        Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan sensasi pengalaman dari kegiatan yang berjudul pengamatan burung. Paling murah karena sejatinya hanya butuh mata untuk melakukan pengamatan burung, tapi juga bisa mahal karena kadang kita butuh alat tambahan seperti teropong (binokuler/monokuler), recorder, kamera (mulai kamera pocket-prosumer-sampai DSLR dengan lensa termosnya) dan sebagainya. Paling mudah dilakukan karena sejatinya semua orang (terutama manusia normal) bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja, tapi juga bisa sangat susah kalau diharuskan menuju tempat-tempat tertentu yang sulit dijangkau. Paling menyenangkan terutama bagi para penggiat alam karena bisa menikmati keindahan alam/lingkungan tempat burung berada, tapi juga bisa sangat membosankan kalau kita tidak beruntung saat tidak menjumpai burung yang dimaksud karena suatu alasan tertentu. Berisi ilmu tentang perburungan, mendapat pelajaran khusus tentang burung secara langsung di habitatnya baik mengenai perilaku-ekosistem-permasalahan lingkungan-dsb, namun terkadang kita juga dibodohi dengan kalimat "kalau mau pengamatan burung gak boleh mandi, ntar kalau tubuh kita terlalu bersih burungnya takut sama kita" nggak tau tuh ide muncul dari siapa ya?? padahal indera yang paling peka dari burung kan indera pengelihatan dan pendengarannya, sedangkan indera penciuman hanya ada pada beberapa spesies burung saja yang peka. Terlepas dari itu semua, memang semua hal punya kelebihan dan kekurangannya, tetap saja itu semua tidak mennjadi penghalang bagi kegiatan pengamatan burung sebagai kegiatan yang paling saya dan Anda sukai....   :D
Lanjut cerita kompetisi pengamatan burung di Cangar nih,,
        Setelah dilanda kebosanan karena lama menunggu hujan, pada pukul 12.50 WIB hujan mulai reda dan hanya tersisa rintik-rintik kecil. Hal ini membuat gairah pengamatan kembali memuncak. Dengan beberapa teman dari kelompok lain yaitu mas Bonenk dan mas Sanggar (dari Bali) serta Rizki (dari Malang), saya melanjutkan pengamatan ke arah kolam/pemandian air panas.
        Spesies pertama yang baru masuk dalam list pengamatan hari itu adalah Kangkok ranting (Cuculus saturatus) yang sedang bertengger di dahan yang masih basah dan kemudian terbang meluncur menuju rerimbunan. Lanjut dengan spesies Kacamata gunung (Zosterops montanus), Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), Cikrak daun (Phylloscopus trivirgatus), Cikrak muda (Seicercus grammiceps), Sikatan belang (Ficedula westermanni), Sikatan bodoh (Ficedula hyperythra) dan Sikatan ninon (Eumiyas indigo). Sebenarnya, ketujuh spesies terakhir yang saya sebut di atas merupakan spesies yang sangat umum dijumpai di sini dari pagi sampai sore, bahkan saking umumnya burung-burung tersebut, mas Bonenk menjulukinya sebagai "burung cendol". Entah kenapa saya baru melihatnya siang (menjelang sore) itu. Hanya karena 'mereka' saya hampir frustasi (terutama si Ninon) karena biasanya dialah yang 'menyapa' saya pertama kali setiap saya melakukan pengamatan burung di Cangar, eeeh... malah kali ini hampir saja tidak bersua.
        Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, tanda kami harus kembali ke basecamp guna melanjutkan agenda berikutnya, yaitu briefing singkat dan dilajutkan menulis artikel yang dimulai pukul 14.30 WIB. Inilah yang  membuat acara ini semakin seru. Biasanya, lomba pengamatan burung selalu mengutamakan jumlah list dan deskripsi dari burung yang didapat, namun kali ini semua peserta diwajibkan menulis artikel populer tentang burung yang diamati sebagai kriteria utama penilaian dalam kompetisi ini. Sungguh keren sekali konsep kompetisinya! Kembali ke pembicaraan awal, meskipun sudah pukul 14.00 WIB alih-alih kembali ke basecamp, 'gerombolan' kami malah memesan kopi panas (baik kopi hitam ataupun kopi susu) masing-masing satu gelas sambil menikmati hangatnya pisang goreng (khas Cangar). Dengan alasan "andalan"nya, "hujan turun lagi dan kami lagi-lagi 'terjebak' di warung dekat pemandian." ***dasar somplak!  :P*** (harusnya di sensor nih).
        Akhirnya, kami menuju ke basecamp pukul 15.00 WIB dengan lumayan berbasah-basah ria. Namun suatu hal aneh terjadi, tiba-tiba saya merasakan perut saya "bergejolak" dan merubah sifat saya menjadi seseorang yang "rajin menabung" saat itu. Rupanya, efek dari kebanyakan makan "tape ketan hitam" sudah mulai bereaksi dan memanaskan isi perut saya. Sejak saat itu saya merasa tidak enak badan dan merasa cukup lemas. GAWAT!! Sungguh penyakit yang samasekali tidak keren!!  :(
        Balik ke cerita kompetisi, dengan susah payah dan berpikir ekstra keras membuat artikel populer yang tidak biasa kami (terutama saya) lakukan, akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat si Sikatan narsis (Ficedula narcissina) sebagai topik artikel kami dengan judul "Si Imut, Pengembara dari Negeri Seberang". Fiuh, setelah menghabiskan waktu 2 jam penulisan, akhirnya artikel sepanjang 1,75 halaman kertas folio bergaris (*bijim, 1,75 halaman, gimana ngukurnya yak?? he he*) mampu kami rampungkan dan kami kumpulkan ke meja panitia beserta list dan sketsa burung yang kami jumpai (*kliatan banget kalo gak pernah nulis, bikin tulisan segitu aja butuh waktu 2 jam, ha ha ha*).
        Malam hari acara dilanjutkan dengan malam keakraban dan pembagian doorprise, ini yang tidak kalah seru. Setelah saling berkenalan satu sama lain (*banyak kenalan baru yang saya jumpai*) ternyata banyak juga (yang ngakunya) para birdwatcher newbie/baru dari seluruh penjuru nusantara bergabung dalam kompetisi yang diadakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur kali ini. Suasana kekeluargaan yang sangat akrab dan menyenangkan (meskipun baru saja berkenalan) turut menghangatkan suasana Cangar yang sangat dingin malam itu. Memasuki sesi pembagian doorprise, suasana semakin meriah. Meskipun kondisi saya masih tidak enak badan gara-gara "penyakit yang samasekali tidak keren" itu, dengan sekuat tenaga turut memeriahkan sesi yang satu ini. Tidak percuma, saya berhasil mendapatkan sebuah headlamp dan headcap alias kerpus merek C*NSINA (lumayan lah, bisa dipakai buat penghangat kepala :D).
        Keesokan paginya, badan saya masih kurang fit karena "penyakit yang samasekali tidak keren" itu, tapi setelah mengonsumsi obat khusus untuk "penyakit yang samasekali tidak keren" ini akhirnya keadaan saya berangsur-angsur membaik (*Alhamdulillah* :D). Daaaan... Tibalah saat yang ditunggu-tunggu semua peserta, yaitu sesi PENGUMUMAN PEMENANG DAN PEMBAGIAN HADIAH! Semua peserta baik peserta lomba artikel pengamatan burung dan peserta lomba fotografi berkumpul jadi satu di basecamp  (Pendopo Cangar, red) dengan perasaan yang bercampur aduk, mungkin sambil berpikir "Siapa yang menang ya?" atau "Apakah tim saya juaranya?". Diawali dengan pengumuman pemenang lomba fotografi. Tak dinyana, dosen kami yang bernama Boedi Setiawan M.P., drh. atau lebih akrab dipanggil dokter Boeseth (baca: dokter Buset) menjadi jawara lomba fotografi dengan foto andalannya Jingjing batu (Hemipus hirundinaceus) jantan yang sedang bertengger dengan komposisi mantap dan framming yang joss. Lanjut pengumuman pemenang lomba artikel pengamatan burung. Alih-alih menyebutkan nama tim pemenang, panitia malah membacakan cuplikan artikel sebagai isyarat itu adalah artikel yang dibuat oleh tim yang menjadi jawara. Ketika panitia membacakan artikelnya, sontak saja tiga orang yang tidak lain adalah anggota dari tim yang menjuarai kompetisi ini berteriak kegirangan. Pemenang kompetisi kali ini diraih oleh para pengamat burung yang berasal dari Universitas Negeri Jakarta, NYCTICORAX dengan nomor tim 50 (lupa nama timnya, he he he). Sedangkan tim kami terpuruk di urutan ke 49 dari 53 tim yang terdaftar (PARAH!! Bukti nyata kalau ngga ahli bikin artikel dan nggak pernah nulis. Ha ha ha).
        Yasudah lah, itu saja sedikit cerita yang bisa saya sampaikan, mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung, penulisan nama yang salah, serta kekurangan yang lain. (*penulis juga manusia*)
Bilahitaufiq wal hidayah, wa ridho, wa inayyah, Salam Konservasi!! Salam Lestari!! Wassalam!!  \(^^,)

Wednesday, December 25, 2013

Suatu Hari di Cangar

       Pukul 12.30 WIB Jum'at itu (13 Desember 2013), saya baru memulai packing beberapa pakaian, alat masak portable, sleeping bag, buku panduan lapangan dan binoculair. Ya, kali ini saya akan pergi lagi dari rumah, bukan 'minggat' tapi melaksanakan 'kewajiban' sebagai seorang peserta delegasi lomba pengamatan burung di Tahura R. Soerjo, Cangar, Batu yang mengusung sebuah organisasi pecinta alam dari Universitas Airlangga bernama MPA WANALA UA. *lebay ceritanya
        Setelah berpamitan dengan kedua orang tua (*mapala juga manusia*), saya berangkat menuju sekretariat Wanala terlebih dahulu untuk mengambil tenda sekaligus berangkat bareng sama teman satu tim. Tim kami hanya terdiri dari dua ekor, eh, dua orang saja yaitu saya sendiri dan Ayu Dewi yang juga seorang anggota Wanala. Tim ini saya beri nama "WANABIRD" yang artinya "manuk alas" (burung hutan, red), terinspirasi dari nama Wanala itu sendiri dan tentunya burung.
     Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB, kami berangkat menggunakan motor menuju TKP (Tempat Kejadian Perlombaan). Di tengah perjalanan, hujan menyambut kami, kamipun dipaksa berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan demi menghindari "basah kuyup". Biasanya, perjalanan saya dari kampus menuju Cangar hanya memakan waktu 1,5 jam saja, namun perjalanan kali ini memakan waktu yang lebih lama, yaitu 2,5 jam. Ya, kami baru tiba di Cangar pukul 18.00 WIB. Dengan kondisi pakaian yang sedikit basah ditambah suhu Cangar yang terkenal dingin, sebuah box berisi beberapa kue cukup memberi rasa hangat di perut yang sudah mulai keroncongan, apalagi pas makan kue kami berada di tengah gerombolan peserta lainnya yang udah datang terlebih dahulu.
     Singkat cerita, lomba pengamatan burung dimulai pada hari Sabtu pagi pukul 7.00 WIB. Dengan "peralatan tempur" yang kami miliki, kami memulai kompetisi dari titik start menuju OWA Watu Ondo. Selama pengamatan berlangsung, cukup banyak spesies serta kejadian unik yang kami dapati, mulai dari Ciung-batu siul (Myiophoneus caeruleus) *merupakan first record bagi saya* yang tiba-tiba nongol seenaknya di areal pemandian, lalu si burung sampah (begitulah julukannya di sini) Anis sisik (Zoothera dauma), dilanjut Elang-ular bido (Spilornis cheela) yang sedang kawin di cabang pohon di atas jembatan, seekor Ceret gunung (Cettia vulcania) yang setia mengiringi langkah kami (*mentang-mentang namanya 'cettia' nih yee*) dari jembatan sampai depan pintu gerbang OWA Watu Ondo, munculnya seekor Sikatan narsis (Ficedula narcissina) *juga merupakan first record bagi saya* yang hanya terlihat sebentar saja, sang Garuda alias Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang terlihat sedang soaring bersama anaknya (sepertinya sedang memberi pelajaran terbang) tak lupa ikut hadir mengisi buku presensi, sampai si Meninting kecil (Enicurus velatus) yang dengan percaya dirinya muncul dan berlompat-lompat ria di aspal jalanan di depan hampir semua pengamat yang ada di situ pada saat itu seakan-akan berkata, "Hei, kalian para pengamat burung dan fotografer, lihat aku beraksi, jangan lupa dipotret juga ya!". Sungguh pengalaman yang baru yang tak terlupakan yang tersaji di Cangar.
       Tak berselang lama, mobil mini bus berwarna merah marun dengan suara mesin yang cukup berat karena harus menanjak, melintas di jalan aspal yang tadinya menjadi tempat "show" si Meninting kecil. Sontak semua pengamat langsung melihat ke arah mobil tersebut, bukan karena geram atau marah karena dia telah 'mengusir' si Meninting kecil, tapi karena semua tau kalau itu adalah mini bus milik bapak dan ibu penjual tape ketan hitam dan gorengan di jembatan yang tidak lain adalah langganan para pengamat (*yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba!  :D). Tanpa pikir panjang, setelah menunggu beberapa saat untuk memberi waktu buat mereka menyiapkan dagangan, kami langsung saja menyerbu lapak sederhana milik mereka, apalagi kalau bukan untuk menyantap gorengan panas serta segar-hangatnya tape ketan yang mereka jual. Kompetisi pengamatan burungpun seakan-akan sudah selesai karena saking banyaknya peserta yang menghentikan aktivitas pengamatan burungnya dan mengganti agenda mereka menjadi acara cangkrukan. Ha ha ha, ada-ada saja.
     Namun beberapa saat kemudian turunlah hujan yang cukup deras dan lumayan berlangsung lama, sehingga acara cangkrukan pun 'terpaksa' dilanjutkan, untungnya ada panitia yang menjemput peserta yang 'terjebak' di lapak menggunakan mobil ambulan. Ya, ini mobil ambulan sungguhan yang biasa digunakan untuk evakuasi medis. Ceritanya, ada seorang peserta yang menyumbang ambulan tersebut untuk kegiatan ini, beliau adalah dr. Ari Purnomo Adi, salah satu peserta lomba Cangar Birdwatching Competition 2013, kategori fotografi. Kembali ke cerita awal, setelah semua peserta yang terjebak hujan di lapak dagangan milik bapak dan ibu penjual di jembatan berhasil dievakuasi menuju basecamp lomba, kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu hujan reda untuk melanjutkan lomba mengingat waktu masih menunjukkan pukul 12.00 WIB dengan batas waktu pengamatan burung hingga pukul 14.00 WIB.
               
Mumpung lombanya masih istirahat, maka ceritanya pun ikut istirahat dan akan disambung di episode selanjutnya... he he he
See you next...   :)

Friday, July 8, 2011

Golden Eagle

Elang Emas (Aquila chrysaetos) asli dari India. Berukuran besar, berwarna gelap dan gagah dengan sayapnya yg besar. Cukup umum ditemui di daerah berbukit atau pegunungan, berburu di hamparan terbuka tundra. Nama “eagle” berasal dari kata Latin, “aquila”. Dengan nama latin, Aquila chrysaetos, yg berarti “elang bewarna emas dari atas udara” dan mengacu pada warna kuning ke coklatan-keemasan yg ada di bagian tengkuk. Populasi elang ini cukup stabil tapi sedikit cenderung agak menurun jika dibandingkan dengan satwa spesies lain.

Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Falconiformes
Family: Accipitridae
Genus: Aquila
Spesies: Aquila chrysaetos

Ukuran : 78-88 cm. Identifikasi: Raptor besar ini menampilkan tengkuk emasnya. Bulu dewasa akan muncul sepenuhnya ketika ia mencapai umur 4 tahun, meskipun ekornya bergaris-pita samar. Ketika remaja terbang sangat mudah diidentifikasi dari bawah, pat putih pada dasar bulu primer sayap dan ekor putih mencolok dengan pita gelap di ujungnya. Terlihat sayap yg sangat lebar membentang dari kejauhan, Elang Emas sering “soaring” dengan sayap mereka yg panjang, besar dan sedikit terangkat pada ujungnya. Saat terbang, kepakan sayap mereka relatif lembut/halus dan dangkal.

Suara : Jeritan agak lemah, tapi tinggi. Dewasa membentuk dua suku kata suara “kee-yep” pelan, dan lambat terukur. Saat meminta pakan induk, juveniles memanggil dengan nada tajam dan berulang “ssseeeeeeee-chk” atau “kikikikikikikikikiki-yelp”.

Sarang : di tempat yg tinggi, dengan posisi yg terlindung dan dapat melihat sekitar dengan luas, berada di tebing, karang atau pohon. Kedua induk membuat sarang dari anyaman cabang kecil, ranting dan daun dengan hasil yg halus. Seringkali, menempati 2-3 sarang secara bergantian selama satu musim kawin. Sarang yg digunakan dan diperbaharui tiap tahun menjadi semakin besar. Daun2 aromatik juga ditambahkan secara berkala, untuk melindungi telur dari serangan serangga dan hama. Sebuah pasangan induk dengan jangka waktu cukup lama atau bahkan hanya satu pasangan seumur hidup. Kedua induk berburu bergantian selama masa mengeram dan perawatan anak, tapi jantan merupakan pencari “nafkah” utamanya. Meskipun antan jarang menyuapi anaknya secara langsung, tapi ia selalu menyediakan pakan untuk betina dan menaruh sebagiannya di dalam sarang. Sementara betina mengerami dalam jangka waktu cukup lama (43-45 hari), terkadang jantan juga “membantunya” di siang hari dengan waktu yang relatif singkat. Anak elang akan mencapai dewasanya dalam waktu 66-75 hari pasca ia menetas dan dibesarkan oleh kedua induknya.


Makanan : elang ini biasa memangsa mamalia kecil seperti kelinci, burung, serangga dan bangkai satwa lainnya. Saat berburu, mereka mempunyai areal buruan yg luasdan terbuka dalm mencari mangsanya, dan menyambar mangsanya dengan sangat spektakuler (menukik tajam dari ketinggian yg sangat tinggi). Berburu sendiri atau berpasangan, raptor besar ini mampu memburu domba atau kambing kecil, bahkan seekor anjing hutan atau rubah pun pernah di mangsanya.

sumber :
www.birding.in

Thursday, July 7, 2011

si Brontok dan si Elja

Dua spesies elang yang mungkin sangat disukai dan dinanti bagi beberapa pencinta burung liar terutama dari golongan raptor. Bagi yg baru mengenal dua spesies ini, mungkin mereka akan mengira kalau dua burung ini sejenis karena penampilan yg secara sekilas hampir sama, apalagi pada saat masih juvenile (masih anakan). Bahkan pada awalnya si elja (singkatan dari elang jawa) diklasifikasikan dalam tatanama binominal dengan nama spesies yg sama dengan elang brontok, yakni Spizaetus cirrhatus. Namun dengan penelitian yg lebih intensif lagi, akhirnya mereka “dipisahkan” dengan nama Spizaetus cirrhatus untuk si brontok dan Spizaetus bartelsi untuk si elja.

Berikut adalah beberapa (sedikit) penjelasan dari kedua jenis raptor ini :

Elang Brontok Spizaetus cirrhatus (eng : Changeable Hawk-eagle)
· Deskripsi :
Berukuran besar (70 cm), bertubuh ramping. Sayap sangat lebar, ekor panjang membulat dan kepalanya berjambul sangat pendek. Mempunyai tiga fase, yaitu fase gelap, peralihan, dan terang.
Fase gelap: seluruh tubuh coklat gelap dengan garis hitam pada ujung ekor, terlihat kontras dengan bagian ekor lain yg berwarna coklat dan lebih terang. Burung muda juga berwarna gelap.
Fase terang: tubuh bagian atas coklat abu2 gelap, tubuh bagian bawah putih bercoret-coret coklat kehitaman memanjang, strip mata dan kumis kehitaman. Burung muda tubuh bagian atas coklat keabu-abuan, kepala dan tubuh bagian bawah keputih2an.
Fase peralihan: di antara kedua fase di atas terutama terlihat pada pola warna coretan dan garis (tapi lebih mirip fase terang), garis2 hitam pada ekor dan sayap tidak teratur serta garis2 coklat kemerahan melintang pada perut bagian bawah, paha, dan ekor bag. bawah.
Iris kuning-coklat, paruh kehitaman, sera kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan. 
· Penyebaran :
Global >> India, Asia tenggara.
Lokal >> di seluruh Sunda Besar dan Nusa Tenggara.
Status >> Uncommon ditemukan di ketinggian < 2000 m dpl. menurut IUCN, burung ini berstatus LC (least concern, beresiko rendah).
· Kebiasaan :
Mengunjungi hutan dan daerah berhutan yg terbuka, menyergap ayam kampung. Berburu dari udara atau dari tempat bertengger di pohon kering. Umumnya berburu di hutan yg baru ditebang.
· Suara :
Pekikan panjang ”kwip-kwip-kwip-kwip-kwiiah” meninggi, atau ”klii-liiuw” tajam.

Elang Jawa Spizaetus bartelsi (eng: Javan Hawk-eagle)
· Deskripsi :
Berukuran besar (60 cm), dengan jambul yg sangat mencolok.
Dewasa: jambul, mahkota dan garis kumis hitam, bagian sisi kepala dan tengkuk coklat berangan. Punggung dan sayapnya coklat gelap, ekor coklat bergaris2 hitam, tenggorokan putih dengan strip hitam di tengah.
Bagian bawah yg lain keputih2an bercoretan coklat gelap pada dada dan bergaris tebal coklat gelap di bagian perut.
Burung muda: kepala dan bagian bawah kuning tua-kemerahan. Terdapat bulu peralihan antara muda dan dewasa. Sering kali jambul belum muncul sehingga sepintas mirip dengan Elang Brontok.
Iris berwarna biru-abu2 (muda) dan kuning emas (dewasa), paruh kehitaman, sera gelap, kaki kuning, tungkai berbulu dan bergaris2 melintang.
Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan Elang Brontok fase terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.
· Penyebaran :
Endemik P. Jawa
Status >> IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). Penghuni yg tidak umum di sebagian besar pegunungan di Jawa sampai ketinggian 3000 m dpl, tapi di Jawa Timur (T.N. Meru Betiri) dijumpai di dekat laut.
· Kebiasaan :
Menghuni hutan primer dan daerah hutan terbuka, di perbukitan dan pegunungan.
Berburu dari udara atau dari tempat bertengger di pucuk pohon yang tinggi.
· Suara :
Nyaring, pekikan khas: ”hi-hiiiw”, lebih tinggi dan parau daripada Elang Brontok, atau ”hihi-hiiiw” sering dalam seri yg pendek. 

 sumber :
www.iucnredlist.org
MacKinnon, John, Karen Phillipps, Bas van Balen,.Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi - LIPI, Indonesia.